Kamis, 09 Mei 2013

Tujuh Keajaiban Dunia


Sekelompok siswa kelas geografi sedang mempelajari "Tujuh Keajaiban Dunia."

Pada awal dari pelajaran, mereka diminta untuk membuat daftar apa yang mereka pikir merupakan "Tujuh Keajaiban Dunia" saat ini.

Walaupun ada beberapa ketidak-sesuaian, sebagian besar daftar kira-kira berisi:

1) Piramida

2) Taj Mahal

3) Tembok Besar Cina

4) Menara Pisa

5) Kuil Angkor

6) Menara Eiffel

7) Kuil Parthenon

Ketika mengumpulkan daftar pilihan, sang guru memperhatikan seorang pelajar, seorang gadis yang pendiam, yang belum mengumpulkan kertas kerjanya.

Jadi, sang guru bertanya kepadanya apakah dia mempunyai kesulitan dengan daftarnya.

Gadis pendiam itu menjawab, "Ya, sedikit. Saya tidak bisa memilih karena sangat banyaknya."

Sang guru berkata, "Baik, katakan pada kami apa yang kamu miliki, dan mungkin kami bisa membantu memilihnya."

Gadis itu ragu sejenak, kemudian membaca, "Saya pikir, "Tujuh Keajaiban Dunia" adalah :

1) Bisa melihat,

2) Bisa mendengar,

3) Bisa menyentuh,

4) Bisa menyayangi,

Dia ragu lagi sebentar, dan kemudian melanjutkan: 5) Bisa merasakan,

6) Bisa tertawa,

7) Dan, bisa mencintai

Ruang kelas tersebut sunyi seketika.

Alangkah mudahnya bagi kita untuk melihat pada eksploitasi manusia dan menyebutnya "keajaiban".

Sementara bila kita lihat lagi semua yang telah Tuhan karuniakan untuk kita, kita menyebutnya sebagai "biasa" saja.


Sumber : www.nomer1.com

Kisah Sebuah Pohon Apel

Kisah Sebuah Pohon Apel

Suatu ketika, hiduplah sebuah pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.

Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih.

"Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.

"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."

Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu."

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang . "Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel.

"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"

"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel.

Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi denganku," kata pohon apel.

"Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"

"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah."

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.

"Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu." "Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu.

"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel.

"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu.

"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang ," kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."

"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."

Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.

Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Pohon apel itu adalah orang tua kita.

Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita.

Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.

Sabtu, 04 Mei 2013

Mengintip Pungutan Liar di Pelabuhan Tj. Priok


Terik matahari Senin siang lalu begitu menyengat kulit di sekitar Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara. Deru mesin truk tronton bercampur kepulan debu menjadi pemandangan lazim.

Namun ada yang aneh namun dianggap lumrah, yakni pungutan haram di Jakarta International Container Terminal (JICT). Dari luar, hak itu tidak terlihat. Tapi di balik pintu gerbang, seorang satpam berpakaian serba putih tanpa malu menerima recehan Rp 2 ribu dari sopir keluar-masuk terminal untuk bongkar muat kontainer.

Kian ke dalam, sopir truk mesti merogoh lagi Rp 2 ribu buat suap timbangan. Kali ini penerimanya adalah pegawai JICT berseragam kuning gading. "Sampai saat ini pungutan liar hal lumrah di pelabuhan, dua pos Rp 4 ribu," kata Sahat (42 tahun), sopir jasa transportasi peti kemas saat ditemui merdeka.com di Tanjung Priok, Senin lalu.

Melintas di pos itu, para sopir memang wajib menyediakan uang receh bagi pegawai JICT berseragam lengkap tapi berlagak seperti pengemis. Meski ada satu pos tidak perlu mengeluarkan fulus karena cukup menempelkan kartu di alat pemindai, namun rupiah harus disiapkan untuk masuk ke dalam area penumpukan barang. Ini tempat penumpukan peti kemas impor.

Truk-truk itu kemudian antre menunggu giliran. Seorang operator tanggo terlihat nangkring di ketinggian 50 meter sambil memegang kemudi untuk mengarahkan alat pengangkut kontainer. Tanggo biasa disebut para sopir sebagai alat berat untuk memindahkan kontainer di tempat penumpukan. Ada 80 blok di penampungan JICT berisi ratusan kontainer setinggi empat tumpuk dari berbagai perusahaan.

Jika ingin cepat diangkut, sopir harus menaruh Rp 5 ribu ke dalam kantong plastik, letaknya di tengah antara roda dengan alat pengangkat kontainer. Operator langsung menyambut dan segera mengambil kontainer berdasarkan nomor registrasi truk di atap atau di pintu kiri dan kanan. Dengan nomor registrasi itu, komputer di hadapan operator akan melacak keberadaan kontainer harus diangkut sopir truk.

"Kode tangan mereka sudah hapal, operator akan instruksikan kita untuk taruh uang. Dari ketinggian dia pantau kita," ujarnya. Dalam lima menit, kontainer sudah berada di atas truk. Jika sopir pelit, jangan harap kontainer itu akan dimuat ke truk tronton dia kendarai. Mereka bisa menunggu hingga enam jam untuk mendapat layanan.

Pungutan liar tidak berhenti sampai di situ. Sopir juga harus membayar Rp 10 ribu buat operator kontainer pabrik. "Kalau operator di pelabuhan mintanya Rp 5 ribu, tapi kalau kontainer kita ada di bawah kita harus tambah Rp 10 ribu," tutur Sahat.

Sahat menjelaskan selepas mengantar kontainer, sopir harus mengantar kontainer kosong itu ke depo kontainer ditunjuk oleh perusahaan. Di sana sopir lagi-lagi harus memberikan Rp 2 ribu untuk satpam, Rp 5 ribu buat menurunkan kontainer, dan Rp 2 ribu guna membersihkan kontainer. Padahal, kata Sahat, di depo sudah terpampang larangan menerima uang. Kenyataannya, pungutan liar di depo dan pelabuhan masih berlangsung.

Belum lagi pemerasan oleh preman di jalan dan bajing loncat di sekitar pelabuhan. Setidaknya saban tikungan harus memberikan Rp 1 ribu Polisi patroli di dalam tol kadang memberhentikan dengan alasan memeriksa kelengkapan berkas. Kalau beres, namun kotak obat atau segitiga merah nihil, mereka harus membayar sedikitnya Rp 50 ribu."Kadang upah antar Rp 70 ribu juga kepotong. Sekali anter biasanya dikasih biaya untuk solar, tol, dan lainnya, Rp 400 ribu bisa habis buat pungli doang," ujar Sahat.

Ketua Umum Serikat Buruh Transportasi Perjuangan Indonesia (SBTPI) Ilhamsyah mengatakan pihaknya terus berupaya menghapus fulus haram di pelabuhan. ternyata tidak cuma sopir kena peras. Karyawan Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL) mengurusi izin ekspor impor juga dikenai Rp 5 ribu buat memperoleh kartu kuning sebagai surat jalan sopir masuk pelabuhan.

Pungutan tak sah juga bermain bila pemilik telat mengambil kontainer. Karyawan EMKL harus memberi Rp 200 ribu untuk biaya pemindahan. "Itu masalah rantai pungli masih kecil-kecil, padahal banyak sekali, seperti pungli saat kontainer habis masa harinya di penumpukan," kata Ilhamsyah saat ditemui di kantornya, Jalan Jampea Raya, Tanjung Priok.

SBTPI mencatat apling tidak ada dua ribu truk terdaftar secara resmi dan bisa masuk ke pelabuhan.n Dia mengatakan para sopir harus merogoh Rp 50 ribu untuk pungutan liar dari pelabuhan hingga depo. "Kalau ditotal Rp 1 miliar per hari," ujarnya

Humas JICT Suryansyah tidak bisa berkomentar soal pungutan haram oleh pegawai JICT. "Saya mengerti. Saya sebenarnya bisa, tapi kalau saya jawab bisa habis saya."

Sumber : kaskus (ghilang27)

Note : ini hanya salah satu contoh realita yg ada, memang budaya sudah menjalar kemana -mana, Dari orang kecil sampai orang besar, kejujuran kalah dengan kemunafikan.

Minggu, 21 April 2013

8 Cara Inovativ Untuk Orang Tidak Inovativ

Banyak orang menganggap bahwa menjadi inovatif tidak pernah mudah. Proses inovasi harus ditempa dengan bertahun-tahun menekuni bangku kuliah atau pergi ke sebuah desa terpencil dimana ide bisa datang tanpa malu-malu. Ada pula sebagian anggapan bahwa inovasi adalah bakat, bawaan dari lahir, hingga menganggapnya sebuah takdir. Setuju atau tidak dengan ide tersebut, anda harus membaca 8 cara menjadi inovatif seperti yang dilansir Inc berikut.

1. Bayangkan skenario terburuk yang mungkin terjadi

Membayangkan hal yang baik-baik tentu cukup mudah. Cobalah bayangkan apa yang akan anda lakukan dengan uang miliaran hasil warisan, mungkin terbayang liburan di Hawaii atau berplesir ke mancanegara. Namun sekarang bayangkan bila anda jatuh bangkrut dan tidak memiliki harta. Mungkin anda tidak mau atau takut untuk melakukannya. Percayalah bahwa dengan berpikir mengenai hal terburuk yang mungkin terjadi akan menjadikan anda lebih inovatif. Jangan tanggung-tanggung, bayangkan yang paling buruk.

2. Memainkan game “why”

Selalu bertanya “kenapa” akan memberikan banyak jawaban yang mungkin belum anda pikirkan sebelumnya. Bayangkan rangkaian kejadian yang akan terjadi bila anda mengambil sebuah keputusan.

3. Berpura-puralah tidak punya uang

Saat anda berada dalam zona aman, utamanya secara finansial, biasanya anda akan mudah menepis atau mengacuhkan hal-hal kecil yang bisa jadi sangat bernilai. Berpura-puralah tidak punya uang, maka mau tidak mau anda harus bergerak untuk mempertahankan hidup. Situasi ini akan menstimulasi kerja otak untuk lebih inovatif. Anda akan memperhatikan hal yang benar-benar penting untuk hidup anda dan mampu merubah keadaan.

4. . Berpura-puralah tidak ada aturan

Setiap organisasi dan perusahaan memiliki peraturan, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Namun cobalah untuk tidak membatasi diri pada sebuah aturan, anda akan lebih leluasa untuk mengembangkan imajinasi dan menjadi inovatif. Kadang sebuah peraturan bukanlah benar-benar sebuah aturan, namun sebuah rutinitas dimana anda menyelesaikan pekerjaan anda sehari-hari.

5. Berpura-puralah hanya punya 5 menit

Tidak banyak orang yang tahu bahwa kecepatan adalah salah satu inti dari inovasi. BIla anda menemui sebuah masalah, maka katakan pada diri anda bahwa anda hanya punya lima menit untuk menyelesaikannya. Segera lakukan hal yang perlu dilakukan dan ambillah sebuah keputusan.

6. Bayangkan kesempurnaan

Dalam merencanakan bisnis, biasanya kita akan menetapkan target dalam persentase. Peningkatan sales tahun depan harus mencapai 30 persen, misalnya. Sekarang bayangkan bahwa target anda adalah sebuh kesempurnaan. Bayangkan bahwa saat membangun sebuah bisnis, anda tidak menginginkan peningkatan, tapi kesempurnaan. Anda harus break down langkah-langkah yang harus anda lakukan dalam tahap-tahap yang lebih detail. Hal ini akan membantu otak anda untuk bekerja lebih inovatif. Selalu bayangkan kesempurnaan, dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai itu

7. Kacaukan sesuatu dengan Sengaja

Dalam proses untuk menjadi lebih inovatif, kadang dibutuhkan sebuah eksperimen dimana kreativitas menjadi lebih terasah. Pilihlah sebuah proses atau tugas yang sudah berjalan lancar, lalu hentikan seketika atau kacaukan dengan sengaja dan lihatlah apa yang terjadi. Namun sebelum melakukan ini, pastikan proses atau tugas tersebut tidak berhubungan langsung dengan konsumen atau menyebabkan kerugian yang terlalu.

8. Berkunjunglah dan pinjam

Inovasi juga harus didorong dari luar. Oleh karenanya, lakukan kunjungan kerja dan lihat bagaimana orang lain melakukan sesuatu dengan baik. Pinjamlah hal itu dan coba terapkan dalam bisnis anda. Saat menggabungkan temuan itu dalam bisnis anda, mungkin hal itu bisa jadi inovasi yang dapat meningkatkan kinerja perusahaan.